HUKUM SAFAR, JARAK DAN MASALAH QOSHOR

HUKUM SEPUTAR SAFAR, JARAK SAFAR DAN  MASALAH SHALAT QASHAR

Masalah safar, jarak safar dan bagaimana cara mengqashar shalat saat safar   adalah sesuatu yang penting untuk dipahami bagi kaum muslimin yang ingin berpergian.

hukum safar- jarak-dan-qoshor
hukum safar- jarak-dan-qoshor

 

Hukum Safar dan Jarak Safar

Sabda Nabi SAW :

يَا أَهْلَ مَكَّةَ، لاَ تَقْصُرُوا الصَّلَاةَ فِي أَقَلِّ مِنْ أَرْبَعَةِ بُرُدٍ مِنْ مَكَّةَ إِلَى عَسْفَانَ

“Wahai penduduk Makkah, janganlah kalian mengqashar shalat (dalam perjalanan) kurang dari 4 barid dari Makkah ke ‘Asfan.” (HR. Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi. Hadits ini dhaif sekali karena ada dua perawi yang dhaif: Abdulwahhab bin Mujadid bin Jabr dan Isma’il bin ‘Iyyasy. Lihat Al-Irwa’ no. 565)

4 barid = 16 farsakh = 48 mil = 85 km

Hadits Anas ra:

كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا خَرَجَ مَسِيْرَةَ ثَلَاثَةِ أَمْيَالٍ أَوْ ثَلَاثَةِ فَرَاسِخَ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

“Adalah Rasulullah SAW apabila beliau keluar sejauh 3 mil atau 3 farsakh beliau shalat 2 rakaat (yakni mengqashar shalat).” (HR. Muslim, Kitab Shalatul Musafirin wa Qashruha, Bab Shalatul Musafirin wa Qashruha, no. 1116)

Hukum Wanita Safar Tanpa Mahram

Wanita yang safar selama tiga hari harus disertai mahramnya , dasarnya dalah :

لاَ تُسَافِرُ الْـمَرْأَةُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Tidak boleh seorang wanita safar selama tiga hari kecuali bersama mahramnya.”1 (HR. Al-Bukhari, Kitabul Jum’ah, Bab Fi Kam Yaqshuru Ash-Shalah no. 1034)

Dalam riwayat yang lain dari sahabat Abu Sa’id ra dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim. Di dalamnya terdapat lafadz يَوْمَيْنِ (dua hari):

لاَ تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ يَوْمَيْنِ إِلاَّ وَمَعَهَا زَوْجُهَا أَوْ ذُو مَحْرَمٍ

“Tidak boleh seorang wanita safar selama dua hari kecuali bersama suami atau mahramnya.”

Dalam riwayat yang lain disebutkan dengan lafadz يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ (satu hari satu malam):

لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا مَحْرَمٍ

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk safar sejauh perjalanan sehari semalam tanpa disertai mahram.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits Abu Hurairah ra.)

Berapa Lama Musafir tinggal ?

Abdurrahman bin Al-Miswar bin Makhramah mengatakan: “Kami tinggal bersama sahabat Sa’ad radhiyallahu anhu di sebagian desa negeri Syam selama empat puluh hari, beliau mengqashar shalat, sedang kami menyempurnakannya”. (Riwayat Abdurrazzaq dan perawinya kuat).

Nafi’ rahimahullah meriwayatkan, bahwasanya Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu anhuma tinggal di Azzerbaijan selama enam bulan mengqashar shalat. (Riwayat Al-Baihaqi dll dengan sanad sahih).

Berkata Hafsh bin Abdillah: “Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu pernah tinggal di negeri Syam selama dua tahun, beliau shalat seperti shalatnya musafir (maksudnya mengqashar)”. (Riwayat Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf)

Berkata sahabat Anas radhiyallahu anhu: “Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tinggal di negeri Ramahurmuz selama tujuh bulan, mereka semua mengqashar shalat”. (Riwayat Al-Baihaqi).

Namun dalam Hadits lain , yang diriwayatkan Al Bukhari (1080), dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, ia berkata:

أَقَامَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- تِسْعَةَ عَشَرَ يَقْصُرُ، فَنَحْنُ إِذَا سَافَرْنَا تِسْعَةَ عَشَرَ قَصَرْنَا، وَإِنْ زِدْنَا أَتْمَمْنَا

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menetap selama 19 hari dengan meng-qashar shalat. Dan kami jika menetap selama 19 hari kami meng-qashar shalat, jika lebih dari itu kami menyempurnakan shalat

Jika seorang Muslim bertempat tinggal di suatu kota, sedangkan ia bekerja di kota lainnya, maka ia boleh meng-qashar shalat dalam safarnya antara dua kota tersebut. Namun ketika ia sudah masuk ke kota dimana rumahnya berada, maka tidak boleh meng-qashar shalat.

Shalat Jumat bagi Musafir

  • Tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir, yang dilakukan adalah shalat zhuhur. Sebagaimana dilakukan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hajinya. Karena ketika itu bertepatan dengan hari Jum’at, dan beliau tidak shalat Jum’at dan shalat zhuhur dijamak dengan shalat ashar.
  • Jika seorang musafir shalat Jum’at, tidak boleh menjamaknya dengan shalat ashar. Karena hal itu tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Sumber : Kitab Fiqh Sunnah, sayyid Tsabiq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *