Tag Archives: pertempuran al qodisiyah

SEJARAH PERANG AL QODISIYAH

SEJARAH PERANG AL QODISIYAH. Perang Qodisiyah adalah perang antara kaum muslimin dimasa Khilafah Umar bin Khaththab ra. Menghadapi pasukan Persia di Al Qodisiyyah Irak, tahun 636 H. Kekuatan Kaum Muslimin saat itu sebesar 48.000 sedangkan Pasukan Persia sebanyak 130.000. Kendati pasukan Persia sangat banyak, pada akhir pertempuran dimenangkan kaum muslimin dengan jumlah korban pasukan Persia 40.000 dan kaum muslimin 7.000.

Peta Lokasi Perang Al Qodisiyah Irak
Peta Lokasi Perang Al Qodisiyah Irak

Umar bin Khaththab menunjuk Saat bin Abi Waqosh sebagai komandan perang, atas usulan Abdur rahman bin auf. Saad bin Abi Waqosh sangat tepat untuk memimpin pasukan di Al Qodisiyyah, karena banyak pertimbangan, pertama karena dia adalah pasukan berkuda yang tangguh dan dikenal dengan cakar Singa, dan lemparan tombak yang tidak pernah meleset. Kedua, karena doa’anya tidak tertolak. Karena Nabi SAW pernah berdo’a kepadanya : “Ya Allah tepatkanlah sasaran tombaknya dan kabulkanlah Do’anya”.

perang al qodisiyah irak
perang al qodisiyah irak

Oleh karena itu tepatlah Saad bin Malik Al Zuhri yang memanggul Ar Royah [ bendera hitam bertulis Laailaaha illallah Muhammadur Rasulullah ]. Setelah pasukan pimpinannya sampai di Al Qodisiyah dan Utusan Kaum Muslimin berhadapan dengan Rustum, dengan sombong dan angkuhnya, Rustum [ pimpina pasukan Persia yang terkenal licik] tersebut menegur, dengan kata-kata ejekannya :

Apa yang menarik hati kalian keluar dari negeri kalian lalu menyerang ke dalam negeri kami yang kaya raya ini? Apakah karena kalian kurang makan? Jika demikian, pulanglah kembali. Akan kami perlengkapkan persediaan makanana buat kalian.

Apakah karena kalian bertelanjang, tidak berkain dan berbaju? Jika demikian, pulanglah! Akan kami sediakan kain baju sampai memuaskan kalian.

Apakah karena kalian melarat miskin? Jika demikian, pulanglah, kami akan memberi anugerah emas perak buat kalian, supaya kalian mengecap kekayaan pula”.

Mughirah bin Syu’bah lalu menjawab pertanyaan Rustum :

Engkau salah sangka! Bukan untuk apa yang engkau sangka itu kami datang menyerbu ke negeri ini dan siap berjuang berkuah darah bersabung nyawa. Bukan karena lapar, bukan karena bertelanjang kurang kain, kurang baju, bukan karena kekurangan perhiasan dan kekayaan dan kemegahan. Sudah engkau lihat sendiri, sepeserpun tidak ada harganya bagi kami permaidani-permaidani tebal ini, emas perak yang engkau hidangkan ini, mahlota-mahkota yang berhiaskan ratna mutu manikam yang memberatkan kepala kalian ini, bantal-bantal penyenang duduk berhiaskan mutiara dan merjan. Omong kosong semua. Bahkan kami datang kepada kamu kemari karena kami mempunyai tugas yang diterima langsung dari Allah, untuk menyampaikan Kalaimatul Haq, Kata-Kata Kebenaran kepada kalian. Kalian hidup dalam jalan fikiran yang gelap selama ini! Kami datang hendak membimbing kalian kepada tempat yang terang. Kalian selama ini hanya budak-budak dari benda-benda itu. Kalau kalian mau menerima ajakan dan anjuran kami, negeri ini tetap di tangan kalian dan kami akan pergi ke tempat lain pula menyerukan seruan ini, dan sejak kini kita hidup bersama dalam satu keyakinan dan Iman, tidak ada kelebihan kami dari kalian dan tidak ada kekurangan kalian dari kami”.

Dalam penjelasan lain disebutkan akhir dialog dengan Rustum sebagai berikut :

Dikatakan kepada Rustum :

Allah telah memilih kami untuk membebaskan orang-orang yang dikehendakiNya dari pemujaan berhala ke pengabdian kepada Allah YME, dari kesempitan hidup ke kemerdekaan, dari kedzaliman menuju keadilan Islam. Siapapun yang menerima tawaran kami, kami akan meninggalkan dan tidak akan menyakitinya, Siapa yang memerangi kami , kami akan memeranginya hingga kami mencapai apa yang telah dijanjikan Allah.

Rursum menjawab : Apa yang telah dijanjikan Allah? . Para Sahabat menjawab”Syurga bagiyang mati syahid, dan kemenangan bagi yang masih hidup”.

Namun Rustum tetap menolak ajakan dakwah kaum muslimin tersebut, dan peperangan tidak bisa dihindarkan. Pada awal pertempuran pihak muslim terdesak dan hampir dipukul mundur pada hari kedua. Namun pada hari ke tiga, pasukan pimpinan Khalid bin Walid datang dari syiria membantu setelah memenangkan perang Yarmurk.

Pasukan Gajah Persia yang semula sulit ditakhlukkan selama 2 hari peperangan, berhasil diusir mundur [karena ketakuatan] dengan pasukan berkuda Khalid bin Walid yang dengan kecerdikannya memberi kostum pasukan kudanya yang membuat para gajah lari tunggang langgang. Sebuah ide cemerlang yang laur biasa kala itu.

Pada hari ke Empat Allah menurunkan pertolonganNya dengan mengirim badai pasir [ kejadian sama saat perang Yarmurk], yang menyerang pasukan Persia hingga pasukan pimpinan Rustum tercerai berai. Kaum Mulimin tidak menyia-siakan kesempatan itu dengan menghujani anak panah di tengah pasukan mereka. Kemudian Pasukan muslim yang bernama Hilal bin Ullafah berhasil memenggal kepala Rustum. Akhirnya Allah memberikan kemenangan yang gemilang dipihak kaum muslimin.

Faktor Kemenangan Perang Al Qodisiyah

Salah satu rahasia spirit perang Al Qodisiyyah dan factor kemenangan pasukan Kaum Muslimin adalah surat Khalifah Umar bin Khaththob ra. kepada panglima perangnya Saad bin Abi Waqqosh, pada saat hendak membuka negeri Persia yang isinya:

Amma ba’d. Maka aku perintahkan kepadamu dan orang-orang yang besertamu untuk selalu takwa kepada Allah dalam setiap keadaan. Karena, sesungguhnya takwa kepada Allah adalah sebaik-baik persiapan dalam menghadapi musuh dan paling hebatnya strategi dalam pertempuran.

Aku perintahkan kepadamu dan orang-orang yang bersamamu agar kalian menjadi orang yang lebih kuat dalam memelihara diri dari berbuat kemaksiatan dari musuh-musuh kalian. Karena, sesungguhnya dosa pasukan lebih ditakutkan atas mereka daripada musuh-musuh mereka dan sesungguhnya kaum muslimin meraih kemenangan tidak lain adalah karena kedurhakaan musuh-musuh mereka terhadap Allah. Kalaulah bukan karena kedurhakaan musuh-musuh itu, tidaklah kaum Muslimin memiliki kekuatan karena jumlah kita tidaklah seperti jumlah mereka (jumlah mereka lebih besar) dan kekuatan pasukan kita tidaklah seperti kekuatan pasukan mereka. Karenanya, jika kita seimbang dengan musuh dalam kedurhakaan dan maksiat kepada Allah, maka mereka memiliki kelebihan di atas kita dalam kekuatannya, dan bila kita tidak menang menghadapi mereka dengan “keutamaan” kita, maka tidak mungkin kita akan mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.

Ketahuilah bahwa kalian memiliki pengawas-pengawas (para malaikat) dari Allah. Mereka mengetahui setiap gerak-gerik kalian karenanya malulah kalian terhadap mereka. Janganlah kalian mengatakan, “Sesungguhnya musuh kita lebih buruk dari kita sehingga tidak mungkin mereka menang atas kita meskipun kita berbuat keburukan.” Karena, berapa banyak kaum-kaum yang dikalahkan oleh orang-orang yang lebih buruk dari mereka. Sebagaimana orang-orang kafir Majusi telah mengalahkan Bani Israil setelah mereka melakukan perbuatan maksiat. Mintalah pertolongan kepada Allah bagi diri kalian sebagaimana kalian meminta kemenangan dari musuh-musuh kalian. Dan aku pun meminta hal itu kepada Allah bagi kami dan bagi kalian.

Itulah sepenggal kisah peperangan kaum muslimin di Al Qodisiyyah [ Perang AlQodisiyah] , selain factor persiapan [I’daad], kecerdikan disaat perang, namun factor kekuatan Iman dan taqwa menjadi penentu kemenangan kaum muslimin. Dengan keimanan yang kokoh itulah letak datangnya pertolongan Allah SWT.

وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. [ QS. As-Shoff 61 : 13] . Wallahu a’lam bi ash-showab [ Arif Al Qondaly].

Referensi :

Man Around the Mesenger, Khalid Muhammad Khalid,
https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Qadisiyyah